Empati Wanita

----

Kembali dari ''Syria'' saya ke kamar istri di RS Orthopedi, Surabaya. Itu malam ketiga saya tidur di rumah sakit. Saya lihat istri berbaring sambil main HP.

"Tadi pasti sakit sekali ya?" sapa saya.

Diam.

"Tadi sampai menangis ya?"

Diam.

"Anda tadi sudah bisa berjalan 20 langkah ya," kata saya melebih-lebihkan hasil fisioterapinyi.

Diam.

"Besok akan lebih sakit dari itu. Besok Anda akan diminta latihan lebih berat," kata saya.

Diam.

"Sebentar lagi kalau badan Anda agak panas, jangan risau. Itu akibat fisioterapi yang berat tadi," kata saya sambil menempelkan telapak tangan ke keningnyi. Suhu normal.

Sabtu pagi kemarin dia menjalani fisioterapi ketiga. Meski tidak bicara, saya yakin dia sudah siap mental untuk menerima sakit yang lebih berat.

Selesai fisioterapi dia baru mau bicara. "Tidak sesakit kemarin," katanyi. Tidak senyum tapi juga tidak merengut. Jiwanya terlihat bahagia.

Membuat bahagia istri ternyata mudah: memberikan gambaran yang berat, lalu dia bahagia ketika ternyata kenyataannya tidak berat. (Dahlan Iskan)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan