Buka Blak
HARGA SAHAM yang memerah ditampilkan di Indonesia Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia) Kamis,29 Januari 2026.-Yasuyoshi Chiba-AFP---
Hanya saja di perdagangan hari Senin, saham GoTo anjlok lagi. Lebih dalam dari sebelum kenaikan akhir Januari.
Pun "juara" turun terdalamnya bukan perusahaan besar kelas Adaro atau Bank BCA. Yang turun terdalam Anda jarang dengar namanya, saking kecilnya di antara gajah-gajah itu: PT Artha Mahiya Investama. Turun 46 persen.
Apakah mereka yang turunnya terdalam itu dicurigai MSCI sebagai yang suka goreng saham lewat kecilnya saham yang free float? Ternyata bukan. Saham free float di Adaro cukup besar: 16 persen. Kalau pun nanti OJK menaikkan persyaratan minimal free float menjadi 15 persen (dari 7,5 persen), Adaro sudah aman. Hanya saja angka 16 persen belum menarik bagi investor kelas dunia. Mereka menginginkan free float itu antara 20 sampai 25 persen.
Bank BCA sudah melebihinya: sudah 42 persen. Begitu juga Bank Mandiri dan Bank BRI. Emiten seperti BUMI sudah 32 persen.
Maka sebenarnya tidak terlalu menakutkan kalau persyaratan free float naik ke 15 persen --pun bila 20 persen. Karena itu Pjs Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi langsung memutuskan: naik jadi 15 persen. Begitu cepat keputusan itu: tidak sampai 48 jam setelah pengangkatannyi sebagai Pjs Ketua OJK.
Kesimpulan saya: tidak ada bahaya besar kalau kita memenuhi persyaratan MSCI. Apalagi soal keterbukaan siapa di balik saham kecil-kecil itu. Kiki, nama panggilan Friderica, sudah membuat keputusan cepat nan berani: pokoknya siapa sebenarnya di balik pemegang saham di atas satu persen akan dibuka. Tidak hanya yang lima persen ke atas.
Selama ini nama pemegang saham kecil itu "disembunyikan". Pakai nama PT. Tidak pakai nama orang. Keterbukaannya hanya sampai pada penyebutan nama PT. Siapa di balik nama PT itu tidak wajib dibuka. Putus di situ. Toh hanya memegang saham lima persen.
Ibaratnya, keterbukaannya sampai "sudah buka baju". Padahal sudah buka baju bukan berarti sudah bisa melihat semuanya. Masih ada bra dan CD.
MSCI minta tidak hanya sampai tahap "buka baju". Harus buka semuanya. Apalagi saham-saham kecil yang disembunyikan di balik PT itu kalau disatukan besar juga. Apalagi kalau ternyata di balik PT-PT tersebut orangnya sama.
Praktik seperti itu yang MSCI tidak mau. Harus dibuka blak. Sampai bugil. Dibuka semua --mulai be-ha sampai ce-de-nya.
Tentu OJK tidak akan keberatan. BEI juga harus dipaksa untuk tidak keberatan. Ini untuk kebaikan bersama.
Walhasil ”dalam waktu secepat-cepatnya” seperti yang diucapkan Kiki Widyasari ternyata memang sangat cepat.
Semua reformasi kelihatannya bisa selesai sebelum Lebaran. Setidaknya sudah bisa sampai tahap buka "be-ha". Sedang untuk sampai buka CD mungkin perlu menunggu setelah Lebaran.
Proses terlama rasanya ini: pembentukan PT BEI yang baru --yang tidak lagi dimiliki perusahaan broker semata. Apalagi "PT BEI Baru" itu harus pula mendaftar untuk IPO di BEI.
Ada jalan untuk bisa lebih cepat: kalau perlu IPO BEI lewat papan pengembangan dulu. Yang penting sudah mulai buka bra --soal tahap buka ce-de kan otomatis terjadi berikutnya.