Agak Laen

ILUSTRASI IHSG Rontok, Permainan atau Mekanisme Pasar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway---

Black Weekend. Panik. Serbasalah. Weekend kali ini agak lain. Bulan pertama tahun 2026 ternyata harus ditutup dengan kisah sedih di akhir minggu.

Dimulai hari Rabu: indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih tujuh persen. Begitu besarnya sampai perdagangan saham dihentikan. Kamis masih juga jeblok. Pun setelah perdagangan dihentikan lagi. Total turun lebih delapan persen: ditutup di angka Rp8.300.

Sebenarnya angka itu masih di atas harga saat Prabowo dilantik sebagai presiden. Tapi anjlok begitu dalam memang menjadi drama yang menegangkan.

Siapa pun akan panik: bagaimana cara menyelamatkannya. Wajah Presiden Prabowo seperti ditampar terang-terangan di atas panggung dunia.

Saya bisa bayangkan betapa marah Presiden Prabowo. Tapi saya tidak bisa membayangkan apakah cukup kalau hanya handphone yang harus dilempar.

Tapi, dalam hal ini, siapa yang harus dilempar sesuatu?

Dari respons petinggi Danantara terlihat tudingan utama terarah ke regulator. Misalnya seperti yang diucapkan Pandu Syahrir, CIO Danantara.

"Katakanlah ada yang goreng-goreng saham. Jangan pemainnya yang disalahkan. Tidak ada gunanya," ujar Pandu di Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta. "Pemain hanya memanfaatkan peluang yang tersedia," tambahnya.

Berkali-kali Pandu menyebut regulator yang sangat lambat berbenah diri. "Kan sudah diingatkan sejak tiga atau empat bulan lalu," kata Pandu. "Sudah diingatkan berkali-kali. Akhirnya beneran terjadi," katanya.

Lalu panik. Tidak ada gunanya lagi.

Tanda kepanikan pertama terlihat dari keluarnya peraturan dari pemerintah: dana asuransi boleh lebih banyak dipakai membeli saham. Boleh sampai 20 persen. Dulunya dana asuransi amat dibatasi: hanya boleh lima persen yang dipakai main saham.

Tujuan perubahan peraturan itu bisa dibaca dengan jelas: agar indeks harga saham bisa dinaikkan lagi. Artinya: asuransi diminta memborong saham di bursa. Mumpung harga turun.

Tentu yang diincar adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja. Di situlah yang punya dana ratusan triliun rupiah. Kelihatannya masuk akal. Dana asing yang meninggalkan bursa digantikan dana asuransi dalam negeri. Asuransi juga bisa untung karena harga saham lagi turun. Lalu harga saham bisa naik lagi.

Tapi itu dibaca negatif oleh pasar. Itu justru membahayakan asuransi. Kok tidak belajar dari bencana yang menimpa Asabri dan Jiwasraya: uang asuransi bisa ludes lagi di pasar modal.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan