Asta Cashtry

----

Pendapat Cashtry-lah yang kemudian dipercaya secara luas. Bukan pendapat tahayul yang beredar di medsos, misalnya, akibat kena kutukan.

Waktu itu Cashtry memberikan gambaran beberapa kemungkinan. Yang paling kuat adalah akibat penyakit SJS (Stevens-Johnson Syndrome). Itu lebih mendekati kebenaran daripada misalnya karena alergi.

Gejala SJS memang mirip alergi. Di mata awam. Tapi di mata ahli seperti Cashtry keduanya beda sekali.

Kemungkinan besar menyebab SJS itu "salah makan obat". Obat yang mengandung allopurinol tidak cocok bagi orang tertentu yang di dalam darahnya mengandung HLA-B*58:01.

Sistem kekebalan tubuh manusia punya mekanismenya sendiri. Melihat ada allopurinol masuk ke tubuh, sistem imun langsung menyerangnya. Sistem imun orang itu mengira yang masuk tadi musuh utama. Lalu diserang keras. Sampai kulit berbercak seperti terbakar. Mulut sariawan.

Sayangnya banyak orang belum tahu tubuhnya sendiri. Yang merasa seperti terkena flu langsung minum obat penurun demam. Padahal ada obat penurun demam yang mengandung allopurinol. Biasanya obat ini diminum oleh orang yang menderita asam urat.

Sakit seperti Pak Jokowi itu disebut SJS sejak tahun 1922. Yakni sejak dua dokter ahli kulit Amerika menerbitkan tulisan di jurnal tentang ditemukannya penyakit seperti itu. Nama mereka Stevens dan Johnson.

Kini banyak orang terkena SJS. Cashtry punya klinik penyakit kulit dan kelamin di Jakarta. Sebulan dia hanya berpraktik lima hari --seperti tidak butuh uang. Waktu selebihnya dia habiskan untuk pengabdian dan penelitian. Di mana ada bencana di situ ada Cashtry. Termasuk di Aceh Tamiang yang terkena banjir bandang bulan lalu.

Hanya dari lima hari praktik Cashtry menemukan beberapa kasus SJS. Tapi tahapnya masih sangat awal. Dengan demikian masih bisa disembuhkan?

"Tidak bisa. Tapi karena awal masih bisa dikendalikan," ujar Cashtry.

Dia tidak heran kalau wajah penderita SJS berubah. "Itu disebut wajah moon face", katanyi. Itu dampak dari obat untuk mengendalikan SJS.

Kalau lagi tidak ada bencana Cashtry terjun ke daerah-daerah kritis stunting. Objek utamanya di kepulauan Nias. Di situ Cashtry bekerja sama dengan gereja BNKP.

Awalnya saya menebak BNKP itu singkatan dari Batak Nias Kristen Protestan. Ternyata salah. Inilah yang benar: Banua Niha Keriso Protestan.

Anda sudah tahu apa arti Banua Niha: Tanah orang Nias. Keriso adalah Kristus. Itulah gereja terbesar di seluruh Nias. Di situ Cashtry sekaligus melakukan penelitian. Disertasi doktornyi diambil dari situ. Banyak sekali Cashtry menulis jurnal ilmiah dari Nias.

Cashtry sendiri orang Medan. Ayahnyi keturunan Afganistan. Ibunyi: Tionghoa dari Pontianak. Karena itu dia pernah ke Afganistan. Dua kali. Masih punya keluarga di sana. "Kalau ke Pontianak sering," katanyi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan