Keluar Melambai

Rabu 01 Jul 2026 - 09:05 WIB
Reporter : Yogi
Editor : Yogi

Saya pilih jalan kaki ke Kanada. Anda sudah tahu kenapa: ingin melihat air terjun Niagara dari arah yang paling sempurna. Yakni dari atas jembatan penyeberangan antar negara: dari kota Niagara yang di sisi Amerika ke kota Niagara yang di sisi Kanada.

Dengan jalan kaki kami bisa berhenti di atas jembatan itu. Tidak ada tanda ”P-coret” di pinggirnya.

Anda bisa parkir kaki sesuka Anda di pinggir jembatan --pun di tengahnya.

Jembatan ini cukup lebar. Bisa untuk berjalan berjajar lima orang. Apalagi sore itu agak sepi. Orang bisa dihitung dengan jari. Baik yang ke arah Kanada mau pun yang dari arah Kanada ke Amerika.

Kami --terutama Jannet yang dari Beijing itu-- berhenti hampir di setiap lima langkah. Kami berfoto dengan latar belakang air terjun Niagara. Seorang wanita setengah baya --yang dari arah Kanada-- menawarkan jasa: memotret kami. Jannet menyerahkan HP-nyi kepadanyi.

"Kami dari Indonesia. Anda dari mana?"

"Saya Amerika. Dari Chicago," katanyi.

Ganti saya menawarkan jasa untuk memotretnyi bersama suaminyi. Dia menolak. Saya tahu: orang Amerika tidak terlalu suka potret diri. Itu saya ketahui dari John Mohn, ”ayah” anak saya saat sekolah SMA di Ellinwood, Kansas.

Saya pernah ke Niagara bersama John Mohn: 10 tahunan lalu. Hanya berdua. Hanya mampir sebentar. Waktu itu kami dalam perjalanan naik mobil dari Kansas ke Boston: ada rapat soal nuklir di MIT dengan tim dari universitas ternama itu. Kami juga melihat reaktor nuklir di lingkungan kampus itu --reaktor untuk riset.

Kami bergantian mengemudikan mobil selama tiga hari --John sekitar 70 persennya. Umurnya 10 tahun lebih senior. Saat ini ia 86 tahun dan masih sehat --pindah rumah ke Lawrence, masih di Kansas.

John-lah yang menyarankan agar Ayrton masuk Kansas University --kampus John dulu. Rumah John sekarang dekat dengan kampus itu. Maka cicit Pak Iskan itu pun ikut tes. Lolos. Nilai tesnya baik. Sampai mendapat beasiswa dari KU. Bulan depan berangkat ke sana.

Dari Kansas ke Boston memang lewat Niagara. Sayang kalau tidak mampir. Akhirnya kami bisa setengah jam melihat Niagara.

Saya minta John memotret saya dengan latar belakang air terjun yang dahsyat itu. Lalu ganti saya menawarkan jasa untuk memotretnya. Ia menolak. Ia pilih banyak memotret objeknya.

Di Niagara-lah saya mendapat penjelasan bahwa orang Amerika kurang suka berfoto diri. Saya pun melihat sekeliling. Benar. Yang banyak berfoto adalah orang dari Asia.

Kami masih bisa mampir satu lokasi lagi dalam perjalanan dari Niagara ke Boston: ke Cornell University di Ithaca. Ada guru besar ekonomi asal Surabaya mengajar di Cornell. Anda sudah tahu namanya: Iwan Jaya Azis --putra pertama pemilik harian Surabaya Post. Sampai sekarang Mas Iwan masih di Cornell.

Kategori :

Terkait

Rabu 01 Jul 2026 - 09:05 WIB

Keluar Melambai

Minggu 28 Jun 2026 - 09:14 WIB

Ganti Dolar

Senin 15 Jun 2026 - 08:12 WIB

In Five

Rabu 15 Apr 2026 - 06:53 WIB

Bertahan Menyerang

Rabu 04 Mar 2026 - 11:36 WIB

Tujuan IsAm