Kalau Gibran digandeng lagi berarti PSI harus berebut suara di lingkungan "pendukung Prabowo". PSI harus bertarung di dalam selimut yang sama: selimut Gerindra. Padahal ada banyak partai di bawah selimut yang sama.
Maka kalau Gibran tetap digandeng Prabowo, PSI harus menggunakan "cara Nasdem" untuk meraih banyak kursi di parlemen: "membajak" para pemilik kursi dari partai lain.
Suatu saat dulu Nasdem sangat dikenal sebagai "pembajak" kursi partai lain. Terutama ketika jabatan jaksa agung dipegang orang Nasdem.
Apakah PSI akan pakai cara Nasdem dulu itu? Tentu tidak perlu tahun ini. Masih ada waktu. Bisa dua tahun lagi. Agar mereka tidak perlu menghadapi risiko diberhentikan partainya dari keanggotaan DPR.
Kalau transfer itu dilakukan dua tahun lagi toh masa jabatan sudah hampir selesai. Diberhentikan pun tidak masalah. Toh nilai transfernya sebanding dengan hilangnya fasilitas di DPR selama satu tahun.
Meski transfer baru dilakukan dua tahun lagi, "perjanjian di bawah meja"-nya sudah harus dibuat tahun ini. Maka kita akan segera melihat proses naturalisasi kursi antar partai. Tentu masih bersifat bisik-bisik tapi sudah bisa didengar tetangga.
Kursi siapa saja yang diincar PSI? Rasanya sulit untuk melakukan "naturalisasi" pemilik kursi Gerindra. Bisa digebuki beneran. Mungkin sulit juga mentrasfer kursi dari PDI-Perjuangan. Ups... Di Jateng mungkin tidak sulit. Ini hanya soal berapa nilai transfer itu: wani piro!
Dari Nasdem? Ahmad Ali punya jaringan yang kuat di Nasdem. Tidak perlu lagi mencari info dari para calo --ia sendiri tahu sampai pun ke jantung partai.
Rasanya harapan PSI agar sesegera mungkin dapat kejelasan nasib Gibran juga tidak mudah. Prabowo masih banyak pekerjaan untuk bisa memikirkan itu. Rasanya itu baru akan diputuskan di saat injury time. Menggantung lebih baik daripada menggorok.(Dahlan Iskan)