Dua Menit

Penampilan Shakira dan Burna Boy saat halftime show final Piala Dunia 2026 lalu. -FIFA---

MENONTON sepak bola itu harus memihak. Itu baru asyik. Ada sedikit tegangnya. Tidak memihak tidak asyik sama sekali. Contohnya saya.

Mungkin itu karena saya mantan wartawan. Sudah terbiasa tidak memihak --kecuali yang bertanding klub yang satu itu. Tapi redaktur olahraga di koran saya dulu, tidak hanya memihak; ia fanatik tim Jerman. Namanya Johny Kwee --meninggal tiga tahun lalu. 

Ketika tim Jerman sudah ketinggalan gol pun ia begitu yakin pasti bisa membalas.

Johny keras sekali dalam memperlakukan wartawan olahraganya. Begitu naskah wartawan itu diserahkan kepadanya, si wartawan tidak boleh pergi. Harus menunggu sampai naskahnya ia baca. Begitu ia temukan si wartawan salah eja dalam menulis nama pemain sepak bola tidak ada ampun: si wartawan diminta menulis nama pemain bola itu secara benar sampai seratus kali. Pakai tulisan tangan. Nama-nama pemain bola luar negeri kadang memang sulit dieja.

Di Piala Dunia 2026 ini saya tidak pernah sampai membatalkan perjalanan karena harus nonton siaran langsung. Pertandingannya memang sering antara pukul 12.00 atau pukul 16.00 waktu timur  Amerika-Kanada. Pada jam seperti itu biasanya saya sedang berkendara di perjalanan. Dari satu kota ke kota lain. Hanya ketika saya sudah tiba di Vladivostok, pertandingannya pagi waktu Rusia timur.

Meski Rusia diboikot dari Piala Dunia tapi saya yakin akan ada siaran sepak bola di TV Vladivistok. Memang sudah dua kali Piala Dunia Rusia dilarang ikut serta –sejak melakukan pengambilalihan wilayah Crimea dari Ukraina. Waktu itu Rusia sedang ikut babak penyisihan menuju Piala Dunia di Qatar. 

Dari begitu banyak channel di TV di hotel itu saya temukan ada satu channel khusus  olahraga. Channel itu selalu menyiarkan potongan-potongan pertandingan Piala Dunia. Selalu juga memutar ulang pertandingan sehari sebelumnya; dengan komentator Rusia dalam bahasa setempat.

Berarti, besok pagi, di semifinal Maroko lawan Prancis akan disiarkan di channel ini, kata saya dalam hati. Maka channel itu pun saya biarkan hidup terus sepanjang harmal.

Paginya, menjelang jadwal semifinal saya sudah di depan TV. Isinya masih komentar-komentar mengenai Maroko v Prancis. Saya tidak tahu yang dibincangkan tiga komentator itu. Tidak mengerti itu baik agar saya tidak terpengaruh komentator.

Pukul 08.00 tiba. Kok belum pindah ke stadion di Amerika. Lewat tiga menit pun  masih tetap adu komentar. Jangan-jangan saya salah lihat jadwal. Saya pun buka internet: tidak salah. Pertandingan sudah dimulai. Sudah lima menit. Posisi masih kacamata.

Akhirnya saya pelototi layar TV itu. Kok tiga komentatornya seperti sedang membicarakan jalannya pertandingan. Dari raut wajah mereka saya ambil kesimpulan: tiga komentator itu menghadap layar TV yang sedang menayangkan semifinal Piala Dunia secara live. Lalu mengomentarinya untuk pemirsa. 

Rupanya Rusia tidak hanya dilarang bermain di Piala Dunia bahkan dilarang siaran langsung. Atau, Putin kalah dengan Prabowo: berani bayar mahal untuk mendapat hak siar secara langsung agar rakyat Indonesia bisa menonton secara  gratis. 

Gubernur Papua kelihatannya mendukung habis program Piala Dunia Prabowo. Sang gubernur Senin lalu meliburkan pegawai negeri di sana. Final Piala Dunia Spanyol-Argentina itu memang baru selesai pukul delapan pagi waktu Papua. Ups..ternyata berita ini hoax. Pemprov Papua sudah mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar.

Bagi saya sendiri pertandingan yang mengesankan adalah saat Jepang lawan Brasil. Lalu Inggris lawan Argentina –khusus di babak pertamanya. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan