Untung Hoki

----

"Hampir saja saya tidak sempat menontonnya," ujar Renard. Dari Indonesia ia ke New York dulu –sekalian tahu New York. Satu hari sebelum pertandingan barulah berangkat ke Dallas. Pesawatnya harus transit di Washington DC.

Rute ini sebenarnya agak aneh. Kenapa tidak New York–Atlanta–Dallas. Atau New York– Chicago–Dallas. Mungkin rute itulah yang masih tersedia mengingat jalur ke Dallas padat oleh penonton Piala Dunia.

Di Washington pesawatnya delayed. Enam jam. Menurut hitungan Renard masih ok. Tengah malam sudah bisa mendarat di Dallas. Enam jam berlalu. Belum juga ada kepastian jam berapa berangkat. Kalau ditunda besok paginya habislah harapan. Pertandingan dimulai pukul 12.00.

Renard tetap manusia beruntung: setelah telat sembilan jam pesawat berangkat. Tiba di hotelnya di Dallas pukul 02.00. Yang penting paginya bisa ke stadion.

Tentu Renard lebih beruntung daripada saya: stadion Dallas adalah stadion tertutup. Atapnya bisa ditutup rapat. Bisa pakai AC. Kalau tidak, pukul 12.00 di musim panas di Texas adalah neraka yang pindah ke bagian selatan Amerika. Maka stadion di Dallas pakai AC. Pun di kota besar Texas lainnya: Houston pakai sistem yang sama.

Di negara bagian Georgia, yang sama iklimnya dengan Texas juga pakai AC: Atlanta. Hanya tiga stadion itu yang bisa pakai AC di Piala Dunia di Amerika.

Dari Amerika, Renard juga melaporkan perjalanan ke Dallas itu kepada pemilik asli tiketnya: orang Shanghai. Mereka kini berhubungan akrab. Tidak hanya antara Renard dan orang itu, tapi antara seluruh keluarga Renard dan keluarga orang Shanghai itu. Mereka ternyata bertalian darah keluarga. Sama-sama berasal dari satu desa kecil di Yantai.

Saya, istri, anak, menantu, dan cucu pernah tinggal di Yantai. Di kota. Bukan di desanya. Sebulan. Dulu sekali. Baru punya satu cucu –yang sekarang kuliah di Singapura. Yakni saat saya menjalani pengobatan tradisional Tiongkok. Itu jalan terpaksa karena tidak ada lagi pengobatan modern yang bisa menyembuhkan kanker hati saya.

Setelah hasil pengobatan itu negatif barulah kami putuskan: ganti hati. Kami pun kirim Robert Lai untuk mengintip satu rumah sakit di Tianjin. Di sana sahabat– soulmate saya dari Singapura itu diskusi dengan para dokter. Hasil diskusi mantap. Kami pun ke sana. Dari Yantai ke Tianjin kini hanya satu lemparan batu. Tiga jam bermobil bisa sampai. Lewat tol. Di zaman saya di sana dulu belum ada tol.

Memang di saat Renard masih kecil, ibunya pernah pergi ke Yantai. Mencari leluhur di sana. Tapi itu sudah puluhan tahun. Sudah lama terputus. Banyak juga yang sudah meninggal. Atau merantau. Satu-satunya nomor telepon yang masih disimpan tidak bisa dihubungi lagi.

Tiga bulan lalu Renard ke Shanghai: melihat pameran dagang. Lalu ke Suzhou meninjau beberapa pabrik. Peninjauan seperti itu selalu diakhiri dengan makan siang atau makan malam. Bicara bisnis pun dilanjutkan di meja makan. Juga bicara soal-soal lainnya.

Di meja makan itulah hadir satu pengusaha yang pabriknya tidak ditinjau Renard karena tidak ada kaitan dengan bisnisnya. Mereka berkenalan. Cerita-cerita. Sampailah pada pertanyaan dari mana asal usul Renard. Mereka kaget bahwa Renard orang Tionghoa. Bahkan bercerita punya keluarga di Yantai. Renard bilang ia tidak tahu di mana itu Yantai. Juga tidak tahu apa-apa mengenai hubungan keluarga mereka.

"Saya juga dari Yantai," ujar pemilik pabrik yang tidak ada hubungan dengan bisnis Renard itu.

Mulailah pembicaraan beralih dari bisnis ke soal asal-usul keluarga. Tentu waktu tidak cukup. Untuk memperdalam pencarian itu Renard diminta ke Shanghai. Ke kantor pengusaha itu. Renard pun mengundurkan jadwal pulang ke Semarang.

Di Shanghai semuanya terungkap. Mereka berdua masih satu keluarga. Diceritakan, sudah tidak banyak lagi yang tinggal di desa kecil itu. Sudah banyak yang merantau –termasuk ia sendiri yang sukses jadi pengusaha di Shanghai.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan