Hoax Bijaksana

Presiden Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat berbagi pengalaman membangun perusahaan serta menghadapi hoaks di hadapan peserta Explore Business with Dahlan Iskan – Jateng Series.----

Ternyata benar. Yang melakukan hoax bukan pesaing. Bahkan bukan pedagang. Dia seorang ibu rumah tangga biasa. 

Sang ibu diundang Irwan ke pabrik Sido Muncul. Ditunjukkan padanyi modernitas pabriknya. Juga modernitas  peralatan lab-nya. Akhirnya sang ibu mencabut posting-annyi.

Bukan itu yang terpenting. Tapi mengapa sang ibu melakukan itu. Ternyata dia sendiri peminum Tolak Angin. Pun suaminyi. Dia mem-posting hoax semata hanya untuk meraih popularitas. "Menjelekkan perusahaan terkenal akan ikut terkenal", itu prinsip orang seperti ibu itu. Sangat spontan. Lalu menyesal. Tapi sudah membuat kerusakan.

Bahwa Irwan tidak melaporkan ibu itu ke polisi, itulah kepribadian asli Irwan. Ia tipe orang yang tidak ingin cari musuh. Promosi Sido Muncul pun dilewatkan jalan kebaikan. Misalnya sambil melaksanakan operasi katarak. Atau bibir sumbing. Mudik Lebaran bareng. "Kalau toh promosinya tidak berhasil sudah meninggalkan kebaikan. Dari pada promosi yang gagal dan tidak meninggalkan apa-apa," katanya.

Tidak mau mengadukan orang yang mencelakakannya juga didasari prinsip dalam hidup: harus ada orang yang mau mengalah.

Karena itu di dinding lobi hotel miliknya, Tentrem Semarang, ia pasang lukisan besar seorang ibu Tionghoa yang menasehati anaknyi tentang pentingnya kebijaksanaan dalam hidup. 

Diceritakan, di suatu zaman seseorang datang ke pasar membeli kain. Tiga meter. Harga permeter 8 yuan. Si pembeli hanya membayar 23 yuan. Menurut si penjual 3x8  = 24. Menurut si pembeli 3 x 8 = 23 yuan. Keduanya saling ngotot, merasa paling benar.

Mereka pun mendatangkan kepala desa: agar jadi penengah. Kepala desa berpendapat sama dengan penjual: 3 x 8  adalah 24. Tapi si pembeli tetap ngotot 3 x 8 adalah 23. Di dunia nyata memang ada orang seperti itu. Bahkan tokoh. Ia tetap merasa benar meski semua orang mengatakan salah. 

Akhirnya kepala desa dan pembeli sepakat datang ke orang yang paling bijaksana di zaman itu: Konghucu. Mereka sepakat apa pun kata Konghucu harus dipatuhi. Mereka bertaruh: kalau pembeli yang salah siap dipotong lehernya. Kalau kepala desa yang salah siap kehilangan jabatan.

Keduanya pun datang ke Konghucu disertai si pedagang. Di depan Konghucu  Kepala desa berpendapat 2 x 8 adalah 24. Si pembeli ngotot yang benar adalah 23. Masing-masing juga menceritakan taruhan mereka.

"Nabi Konghucu, 3 x 8 itu berapa?" tanya kepala desa.

"23," jawab Konghucu.

Kepala desa tentu protes keras. Kenapa Konghucu bisa menjawab begitu.

"Sebetulnya yang benar adalah 23," ujar Konghucu. "Tapi kalau saya jawab begitu akan ada satu orang yang mati".

Ada baiknya rakyat ikut bijaksana seperti Konghucu terutama di saat melihat kenyataan ada pemimpin yang seperti pembeli kain itu. (DAHLAN ISKAN)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan