Bandit Sosial
----
Fajar berhasil menemukan tetangga Kusni di Blitar: sudah berusia 76 tahun. Fajar juga menelusuri Gang Jangkrik di kota Malang. Di situlah masa anak-anak Kusni. Ikut ibunya yang sudah janda ditinggal mati suami. Dulunya di gang itulah pusat penjualan binatang jangkrik.
Tapi Gang Jangkrik sangat terkenal karena ada Depot Jangkrik –dengan bakmi babinya yang kondang di kalangan Tionghoa. Ada dua lagi depot masakan Tionghoa di gang itu –salah satunya halal. Sampai sekarang tiga-tiganya masih ada.
Ketika Kusni memasuki masa remaja, Jepang menjajah Indonesia. Kusni masuk Heiho –tentara bantu Jepang.
Setelah Jepang kalah, Kusni bergabung ke kelompok pejuang anti penjajahan Belanda. Ia berpindah-pindah. Ketika di Madiun masuk ke brigade Teratai.
Di Surabaya ia pernah mendapat tugas merampok orang kaya di Surabaya. Hasilnya untuk dana perjuangan. Ia juga mengaku sempat tergabung ke dalam Tentara Rakyat Indonesia Pelajar, TRIP, di bawah komando Mas Isman –ayah Hayono Isman, mantan menpora.
Ketika Indonesia merdeka nasib Kusni termasuk yang kurang baik. Ia tidak memenuhi syarat tergabung ke pasukan resmi Tentara Nasional Indonesia. Tidak semua tentara rakyat memenuhi syarat tergabung ke TNI. Salah satunya: Kusni –karea punya sedikit cacat di kaki.
Tidak hanya Kusni. Banyak sekali bekas pejuang yang tersisih. Termasuk yang mengaku-ngaku pejuang –tidak ada yang kenal di medan tempur mana mereka melawan Belanda. Kekecewaan meluas. Menimbulkan ketegangan di mana-mana. Termasuk seperti yang tergambar dalam film Jenderal Nagabonar.
Kusni berkomplot dengan sesama teman yang kecewa. Mereka tidak punya sumber penghasilan. Kusni pun pernah merampok salah satu orang terkaya Jakarta: Ali Badjened. Keturunan Arab. Yang dirampok tewas. Bersimbah darah di Jalan Wahid Hasyim, Kebon Sirih.
Komplotan Kusni berhasil ditangkap tapi Kusni sendiri lolos. Hasil rampokan itu, katanya, dibagi-bagikan ke sesama mantan pejuang yang tidak punya penghasilan.
Yang paling menghebohkan, Anda sudah tahu: Kusni Kasdut merampok 11 berlian di Museum Nasional/Museum Gajah di dekat Monas.
Hari itu Kusni dan komplotannya menyaru dengan berseragam polisi. Dua penjaga museum tidak curiga. Ketika temannya ''memeriksa'' penjaga, Kusni masuk museum. Naik ke atas. Ia congkel kotak kaca tempat 11 berlian dipajang. Berlian ia ambil.
Akhirnya penjaga museum curiga dan ingin mencegah perampokan. Mereka ditikam komplotan Kusni Kasdut. Kusni sendiri kabur.
Sekali lagi mereka mengaku hasil rampokan untuk dibagikan ke teman-teman pejuang senasib. Teman-teman Kusni tertangkap. Akhirnya Kusni juga tertangkap. Dijatuhi hukuman mati.
Untuk mengejar semua jejak itu, Fajar berminggu-minggu di Jatim. Di Malang ia berkenalan dengan tukang ojek sepeda motor. Ke mana-mana Fajar diantar dengan naik motor. Ke Blitar, ke Surabaya, ke Probolinggo. Berhari-hari. Panas. Hujan. Kehausan. Kelaparan.
Di Probolinggo Fajar beruntung: menemukan makam Kusni Kasdut. Dari situ ditemukan juga rumah anak kedua Kusni: Bambang. Berjam-jam Fajar mewawancarai Bambang. Sampai tukang ojek curiga kok penumpangnya tidak muncul-muncul.