Drum Mesiu
----
Oleh: Dahlan Iskan
Cheng Li-wun tidak mau Taiwan menjadi ''drum mesiu''. Cukuplah perang pecah di Ukraina dan Iran. Jangan merembet ke Taiwan. Maka wanita berumur 56 tahun ini ke Tiongkok. Posisinyi: ketua partai oposisi Taiwan: Partai Kuo Min Tang.
Di Tiongkok, Li-wun bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Tapi yang dia kunjungipertama adalah makam Sun Yat-sen di Nanjing.
Di depan jenazah Sun Yat-sen itu mestinya Li-wun melapor: "Sejak tahun lalu saya terpilih menjadi ketua partai Kuo Min Tang".
Pendiri partai Kuo Min Tang memang Sun Yat-sen: 1894. Didirikannya di Honolulu, Hawaii, saat Yat-sen kuliah di sana. Tujuannya: menjadi gerakan untuk mengakhiri sistem kerajaan di Tiongkok untuk diganti dengan republik.
Di depan pendiri partainyi itu Li-wun tentu juga minta restu: agar di pilkada akhir tahun ini para calon kepala daerah dari partai Kuo Min Tang bisa menang di semua kota dan provinsi. Pun para caleg untuk DPRD di seluruh negara.
Sun Yat-sen meninggal di Beijing di usia yang masih muda: 58 tahun. Hampir sebaya dengan Li-wun yang mendatanginya ke musoliumnya di Nanjing.
Sun Yat-sen meninggal karena kanker liver, tapi setelah diteliti lebih jauh, kanker itu bermula di empedu –lalu menjalar ke liver. Teknologi pengawetan jenazah dari Beijing menjamin Sun Yat-sen akan dalam keadaan masih seperti hidup selama 150 tahun setelah meninggalnya.
Mestinya di depan jenazah itu Li-wun juga minta restu: agar di Pilpres akan datang pemerintah Taiwan kembali dipegang KMT –setelah tiga periode berturut selalu dimenangkan Partai Demokrasi Progresif (DPP). Memang Li-wun belum resmi menyatakan pencalonan dirinya sebagai capres dari KMT tapi itu soal waktu saja.
Kebetulan presiden Taiwan sekarang ini, Lai Ching-te, tidak sepopuler pendahulunya: Tsai Ing-wen.
Maka kunjungan Li-wun ke Tiongkok kali ini menjadi berita besar di Taiwan –mengalahkan berita perang di Iran. Momentumnya dianggap tepat: pilih perang atau damai. Li-wunsendiri menamakan kunjungannyi ke Tiongkok ini sebagai ''perjalanan damai''.
Kata "damai" lebih disukai rakyat daripada kata "perang".
Selama Tsai Ing-wen jadi presiden suasana di Taiwan memang tegang. Upaya Ing-wen untuk kian menjauh dari Tiongkok memang kian nyata. Termasuk mengubah nama resmi Republic of China menjadi Republik Taiwan.
Tiongkok sangat khawatir Taiwan merdeka. Maka kegiatan militer Tiongkok di selat Taiwan sangat meningkat –seperti mengarah ke pengambilalihan Taiwan secara militer.