Zaman Batu
Ilustrasi Catatan Dahlan Iskan.----
Pesawat-pesawat tempur lain terbang rendah. Mereka terus mengamati daerah sekitar persembunyian. Bukan hanya untuk mengamankan sang pilot, juga untuk mengamankan pasukan penyelamat.
Belum ada laporan lebih detil dari itu. Mungkin dicicil untuk terus mengobarkan drama di Amerika: sang pilot berhasil diselamatkan dari sarang musuh. Pilot itu lantas diterbangkan ke Kuwait. Dirawat di RS di sana.
Dari jam ke jam orang Amerika tergila-gila dengan keberanian tentara Amerika menyelamatkan pilot tersebut. Di cerita itu tentara Amerika justru seperti dalam posisi terzalimi. Mereka lupa bahwa perang ini akibat Amerika sendiri yang menyerang Iran.
Kisah kepahlawanan itu akhirnya bisa membalik opini di Amerika. Dari yang awalnya menentang perang menjadi simpati kepada tentara mereka.
Di saat yang tepat itulah Trump memberikan ultimatum ke Iran: menyerah, membuka Selat Hormuz, atau kembali ke zaman batu.
Padahal belakangan sebenarnya mulai meluas pertanyaan di media Amerika: untuk siapa perang ini? Untuk siapa tentara Amerika mempertaruhkan nyawa?
Jawabnya jelas: bukan demi Amerika. Selat Hormuz dan minyaknya tidak untuk Amerika. Itu untuk Eropa, Jepang dan Korea –dan bahkan untuk ''musuh'' Amerika sendiri: Tiongkok.
Padahal konstitusi Amerika sudah jelas menggariskan hanya tiga alasan untuk boleh perang –dan serangan ke Iran itu sama sekali tidak termasuk salah satu dari ketiganya. Iran begitu jauh dari daratan Amerika.
Satu-satunya yang masuk akal hanyalah ini: nuklir. Tapi Presiden Barack Obama sudah menyelesaikan itu dengan baik. Justru Trump yang membatalkan perjanjian yang dibuat Obama.
Kisah operasi penyelamatan pilot telah menjadi daya tarik baru. Itu dimanfaatkan dengan baik oleh Trump. Kini dengan ancaman serangan total ke Iran, sepertinya Trump sendiri yang ingin jadi pahlawan besarnya.
Kita begitu waswas menanti datangnya hari Selasa pagi ini. Akankah peradaban dunia hancur oleh ambisi dua orang gila yang berkuasa di satu kurun yang sama.
Sambil terus berdoa ibu-ibu di Indonesia harus tetap ingat untuk mematikan kompor setelah selesai masak.(Dahlan Iskan)