Imlek Banteng
----
"Datang saja ke terminal Lapangan Banteng": ke mana pun Anda ingin ke pelosok Jakarta ada bus jurusan ke sana. Yang dominan: bus Mayasari Bhakti. Selebihnya saya lupa. Tidak ada yang ber-AC. Kernetnya teriak-teriak sambil berdiri satu kaki di pintu bus: "Bios! Bios! Bios!" kaki satunya berayun-ayun di luar bus.
Saya baru sekali itu dengar kata ''Bios''. Diteriakkan terus oleh kernet. Keras sekali. Saya tidak tahu artinya. Tapi terdengar menggoda.
Saya loncat ke dalamnya. Saya berniat dalam satu hari itu akan naik bus kota ke semua jurusannya. Bus jurusan Bios itu pasti akan balik lagi ke terminal Lapangan Banteng. Lalu pindah bus jurusan lain. Balik lagi ke Lapangan Banteng. Naik jurusan lain lagi. Balik lagi. Makan di terminal. Minum di terminal. Salat di terminal. Ke toilet di terminal.
Makannya nasi bungkus. Minumnya air dalam kantong plastik yang diikat karet gelang. Status saya masih wartawan magang di Majalah TEMPO. Yakni saat ikut pendidikan jurnalistik yang diadakan LP3ES yang dipimpin Nono Anwar Makarim.
Sebagai wartawan dari Samarinda saya harus segera memahami jalan-jalan Jakarta. Dalam tempo sesingkat-singkatnya. Agar kapan pun dapat tugas liputan sudah tahu arahnya ke mana: harus naik bus kota jurusan itu. Jadilah saya wartawan yang cari berita naik bus kota! Lalu jalan kaki mencari lokasi liputan.
Kalau ada slogan ''sekejam-kejam ibu tiri masih lebih kejam ibu kota", maka pusat kekejaman ibu kota itu ada di Lapangan Banteng. Saya lihat kehidupan sangat keras di situ. Copet, tipu, bentak, tinju, teriak, tangis, lenguh, semua ada di sana.
Sekian tahun kemudian saya dengar kekejaman yang lain terjadi di Lapangan Banteng: kekejaman politik.
Kala itu baru ada dua partai politik: PDI dan PPP. Lalu ada satu golongan: Golkar. Tiga itulah yang boleh ikut Pemilu. PPP terlihat kian menguasai ibu kota. Kampanyenya selalu dibanjiri pendukung. Lalu akan ada kampanye akbar PPP di Lapangan Banteng. Itulah kampanye penutup seminggu sebelum Pemilu 1977. Golkar sangat terancam kalah telak.
Di akhir kampanye besar itu, menjelang senja, terjadilah bentrokan fisik yang sangat berdarah. Pemilu tinggal tujuh hari di depan. Nama PPP diharapkan hancur.
Saya sudah lupa: apakah akhirnya Golkar bisa menang di ibu kota –yang biasanya selalu kalah.
Sekian tahun lagi kemudian saya dengar Lapangan Banteng dibenahi. Jadi taman kota. Di zaman gubernur DKI Anies Baswedan Lapangan Banteng dipercantik. Tapi saya tidak tahu apakah bisa secantik Helga.
Akhirnya saya tahu. Malam itu. Baru malam itu. Kamis malam lalu. Bersama Helga saya ke Lapangan Banteng. Mobil berhenti di depan gerbang depan Hotel Borobudur.
Saya terpana.
Sepanjang jalan depan hotel itu dihias. Gemerlap. Penuh lampion. "Kita buat seperti Orchard Road," ujar Helga. Maksudnyi: Orchard Road Singapura di waktu malam di waktu Imlek.
Lalu kami memasuki gerbangnya. Ada plasa luas di situ. Plasa itu diubah: dijadikan semacam museum Imlek. Museum terbuka. Saya merasa sayang kalau semua ini dibongkar dan dibuang setelah bazar imlek ini selesai. Saya perhatikan pengerjaannya bagus-bagus. Profesional.