Impor BBM

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) senilai 38,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat dalam sesi roundtable Business --

Apakah Amerika bisa menyediakan "gudang" BBM sebesar itu dalam waktu singkat? Atau Amerika juga akan menggunakan "gudang BBM" milik Riza Chalid di Banten itu?

Lalu soal harga. Apakah Amerika bisa bersaing harga dengan produk Singapura? Bagaimana dengan ongkos angkut yang dari Amerika pasti kalah dekat dengan Singapura?

Anda sebagai pemilik kendaraan tidak perlu mikir itu. Mungkin Anda justru lebih senang. Kendaraan Anda segera mendapat minuman lebih bermutu.

Di Amerika standarnya bukan RON. Tapi AKI. Itu standar gabungan RON dan MON. Di sana standar paling rendah adalah AKI 87 –kira-kira setara dengan RON 92. Masih ada AKI 90 dan AKI 94.

Apakah Pertamina akan mengubah syarat-syarat tender agar cocok dengan spesifikasi BBM yang dihasilkan Amerika? Kalau pun bisa begitu, apakah tidak akan berpengaruh pada harga BBM yang akan Anda beli?

"Gudang BBM" raksasa milik Riza Chalid sendiri rasanya kini dalam status disita kejaksaan agung. Itu terkait dengan perkara korupsi yang dituduhkan kepada anak Riza Chalid –yang awalnya mencapai Rp900 miliar lebih. "Gudang BBM" itulah yang dulu sering dimedsoskan sebagai tempat oplos BBM.

Tentu dalam status sebagai barang sitaan pun "gudang BBM" tersebut tetap bisa dipakai menyimpan BBM kita. Entah bagaimana perhitungannya. Soal siapa akhirnya yang memiliki gudang langka itu akan ditentukan oleh pengadilan perkara korupsi saat ini: disita menjadi milik negara atau dikembalikan ke pemilik awalnya: Riza Chalid.

Yang jelas, siapa pun pemenang tender nanti, akan tetap mengandalkan investasi gudangnya Riza Chalid tersebut. Tinggal kita mengamati bagaimana cara Pertamina memastikan agar Amerikalah yang memenangkan tender itu.

Adanya perjanjian dagang Indonesia-Amerika itu sendiri kini sedang viral di medsos. Saya juga sudah membaca analisis panjang yang awalnya di-posting di grup alumni MIT –lalu di-forward secara multiple.

"Saya yang dapat naskah itu dari grup FE-UI. Lalu saya posting di grup alumni MIT," ujar Dr Rudy Setyopurnomo. Ia memang alumni MIT. Juga alumni Harvard. Di umurnya yang di atas 70 tahun masih meraih gelar doktor di kampus asalnya: ITB.

Ia lupa siapa yang mem-posting di grup FE UI. Yang jelas asal naskah itu dari Utrecht, kampus terkenal di Belanda. Kini peredarannya di medsos luar biasa luasnya.

Kelebihan penulisnya adalah: Ia mengaku sudah membaca detail isi 45 halaman perjanjian dagang itu. Sedang kita pada umumnya hanya membaca berita: bahwa perjanjian itu sangat membanggakan Indonesia.

Dari pembacaannya atas naskah asli –di Amerika bisa didapat secara bebas di website pemerintah– penulis menguliti sisi merugikan Indonesia. Banyak sekali. Mulai dari kedaulatan negara kita yang tercampakkan sampai tidak imbangnya isi perjanjian. Bahkan, katanya, ada klausul yang Indonesia tidak boleh menjalin hubungan dengan negara yang tidak sejalan dengan Amerika.

Lalu ada yang berkomentar: alangkah berbahayanya perjanjian itu bagi kedaulatan negara. Apalagi kalau sampai berpengaruh pada hubungan Indonesia-Tiongkok.

Rasanya kian hari analisis itu bisa kian liar. Panas. Membara. Maka sudah waktunya –apalagi kalau menko perekonomian dan timnya sudah kembali ke Indonesia– segera klarifikasi: bagaimana duduk persoalan sebenarnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan