Berpisah Istri
----
"Kok tahu".
Dia sudah lima tahun tinggal di Makkah. Ayahnyi bekerja sebagai petani di desa itu.
"Kursinya baru ya?" kata saya melihat kursi yang kinclong itu.
"Iya. Baru beli".
"Bagus sekali. Ini mercy-nya kursi roda. Biasanya istri saya dapat yang Avanza".
"Terima kasih. Saya dapat dari orang Singapura. Beliau beli kursi baru. Ketika pulang ditinggal untuk saya".
Saya beruntung dapat pendorong wanita. Jalannya cepat tapi tidak sampai seperti lari. Saya bisa mengikutinyi dengan jalan cepat yang normal.
Sebenarnya enak tawaf di dekat Kakbah. Lingkarannya kecil. Di lantai dua ini lingkarannya besar. Satu putaran terasa sangat lama. Saya pun tergoda untuk menghitungnya: satu putaran berapa langkah. Agar hitungan itu benar saya menghentikan bacaan doa di putaran kedua: konsentrasi untuk menghitung langkah.
976 langkah.
Anda tidak bisa mengoreksi angka yang saya tulis itu. Hanya saya sendiri yang tahu –mungkin kurang atau lebihnya hanya beberapa saja: terutama kalau perjalanan roda itu lagi macet saking banyaknya yang ingin ngebut.
Berarti 976 kali tujuh putaran: sekitar 7.000 langkah. Masih ditambah hilir mudik tujuh kali saat sa'i: antara Shafa dan Marwah. Sekitar itu juga. Total 15 ribu langkah sekali umrah.
Lega.
Untung kami masuk masjid sebelum waktu magrib. Bisa salat magrib di lantai dua. Bisa pilih lokasi di dekat tempat start tawaf. Istri salat di atas kursi roda. Di kelompok wanita. Saya bersama kelompok para lelaki di bagian depan.
Begitu salat magrib selesai tawaf pun dimulai. Suasananya seperti balap formula one: menyiapkan diri agar bisa start duluan di saat masih banyak orang di jalur lintasan.
Menjelang putaran keenam terdengar azan salat isya. Harus berhenti dulu. Salat isya berjamaah. Lalu berputar lagi untuk menyelesaikan lap keenam dan ketujuh.