Dorong Tracer Study untuk Jaminan Mutu Ma’had Aly
Kementerian Agama menggelar Workshop Tracer Study Ma’had Aly. Acara ini berlangsung di Serpong Tangerang.--
“Database alumni bukan arsip statis. Ia harus menjadi sistem yang tumbuh, diperbarui, dan mampu menggambarkan perjalanan para alumni dari tahun ke tahun. Dengan sistem yang hidup, lembaga dapat membuat kebijakan yang tepat dan terukur,” jelasnya.
Sejalan dengan Lindra, Diana Kartika dari IIEF memaparkan teknis penyusunan instrumen tracer study. Ia menekankan bahwa kuesioner tracer study tidak cukup memuat pertanyaan dasar, melainkan harus menggali dampak dan perjalanan lulusan.
“Kita ingin tahu bukan hanya di mana mereka bekerja, tetapi bagaimana mereka berkontribusi, apa tantangan mereka, dan apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman mereka. Instrumen yang baik memotret dampak, bukan sekadar identitas,” ujarnya.
BACA JUGA:Perkuat Ekosistem Inovasi Nasional, Pacu Kompetensi SDM Industri Berbasis Digital
BACA JUGA:Gandeng Akademisi untuk Penyempurnaan Strategi Baru Industrialisasi Nasional
Kementerian Agama melalui Direktorat Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mendorong bahwa tracer study harus menjadi budaya baru dalam pengelolaan mutu Ma’had Aly. Saat ini sudah ada 91 Ma'had Aly di seluruh Indonesia dan semua segera mulai mempersiapkan tracer study.
Kuncinya bahwa tracer study bukan beban administratif, tetapi jembatan menuju masa depan pendidikan ulama. Upaya ini diharapkan memperkokoh posisi Ma’had Aly sebagai pendidikan tinggi keislaman berbasis pesantren yang unggul, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara.