Cantik Tersipu

----
"Kalau saya memuji bahwa dia cantik, habislah karir politik saya".
Yang mengucapkan itu Presiden Donald Trump. Yang dimaksud "dia" adalah Jaksa Agung Amerika Serikat Pamela Bondi. Ucapan Trump itu ditafsirkan ke mana-mana di medsos.
Trump punya cara tersendiri dalam memuji orang. Termasuk memuji Pam Bondi. Cara memuji Trump pakai ilmu "karambol": lewat pantulan dua kali.
Simaklah apa yang diucapkan Trump saat sidang kabinet di Gedung Putih dua hari lalu: "Lihatlah Pam," ujar Trump sambil menatap ke wajah Pamela. "Saya tidak akan pernah memuji dia cantik. Karir politik saya bisa habis," katanya.
Seperti apa reaksi Pamela?
Media di Amerika menulis bahwa Pamela terlihat tetap sopan dengan wajah yang canggung. Dia tersenyum sedikit tapi tidak mengucapkan satu patah kata pun.
Ada juga media yang menggambarkan Pamela seperti salah tingkah, seperti tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi umumnya media menulis sikap Pamela tetap profesional.
Pamela kini berumur 59 tahun. Setelah dua kali bercerai dia kini hidup bersama partnernyi: John Wakefield. Yakni sejak Pamela masih menjabat Jaksa Agung Florida --wanita pertama di posisi itu di Florida.
Trump hari itu memang banyak memuji para menterinya. Tidak hanya Pamela yang tesipu, tapi juga Marco Rubio, menteri luar negeri. Trump sampai setinggi plafon dalam memuji Rubio.
"Ia paling cocok di posisinya sekarang. Luar biasa hebatnya," ujar Trump. Tapi ada kalimat lanjutannya yang membuat Rubio campur aduk. "Di situlah jabatan paling cocok untuk Rubio. Rasanya ia tidak perlu lagi cari pekerjaan lain," tambahnya.
Apakah berarti Trump tidak akan mendukungnya di Pilpres tahun 2028 nanti? Rubio adalah calon kuat. Rubio sendiri sangat berambisi untuk menjadi presiden. Di babak awal Pilpres yang lalu Rubio adalah pesaing Trump.
Media Amerika agak bingung meliput sidang kabinet tersebut. Isinya hanya monolog Trump. Di samping memuji anggota kabinetnya --dan dirinya sendiri-- Trump juga meneruskan kebiasaannya: menghujat mantan Presiden Joe Biden.
Trump memang terus berusaha membabat lawan politiknya: Partai Demokrat. Kota-kota yang kepala daerahnya Demokrat terus diintervensi. Alasannya: kota-kota itu kotor, tidak indah dan tidak aman. Banyak pembunuhan dan kriminalitas.
Setelah merasa sukses mengintervensi Washington DC, Trump sedang mengincar Baltimore dan Chicago. Dua-duanya dipimpin wali kota kulit hitam nan Demokrat. Lalu mengincar juga Boston --yang wali kotanya seorang wanita Tionghoa keturunan Taiwan.