Model Polytron

Minggu 05 Jul 2026 - 10:02 WIB
Reporter : Yogi
Editor : Yogi

Begitu sulit menemukan mobil listrik di tengah budaya mobil di Amerika. Apalagi di Kanada. Sesekali masih melihat Tesla di Amerika tapi tidak pernah melihat merek mobil listrik yang lain. Di Kanada Tesla pun sangat jarang terlihat.

"Bukankah sudah ada kesepakatan Kanada-Tiongkok bahwa mobil listrik Tiongkok boleh masuk Kanada setelah canola Kanada boleh masuk Tiongkok?" tanya saya. "Kenapa saya tidak melihat ada BYD di sini?"

"Desember nanti orang Kanada baru bisa beli mobil listrik Tiongkok".

Kanada beda dengan Indonesia. Produk minyak Kanada berlebihan untuk dipakai sendiri. Tidak ada kepentingan buru-buru pindah ke mobil listrik. Beda dengan negara Anda –negara saya juga: keuangan negara selalu dan selalu dirongrong subsidi BBM.

Maka ingatan saya ke Polytron.

Sudah lama saya ingin ke Polytron tapi baru kesampaian kapan itu –bersama rombongan tur bisnis Disway ke Semarang (Disway Explore Business with Dahlan Iskan –Jateng Series).

Saya ingin memberikan apresiasi yang tinggi: akhirnya ada perusahaan dalam negeri yang serius memproduksi kendaraan listrik: Polytron, dari grup Djarum, Kudus.

Kata ''dengan serius'' perlu saya tegaskan mengingat baru Polytron yang melakukan investasi besar dan menyiapkan tim riset yang kuat. Produk pertamanya memang tidak langsung mobil tapi itu langkah yang benar: mendahulukan motor sambil membangun fondasi yang kuat.

Boleh dikata sepeda motor listrik Polytron kini sudah ''mapan''. Sudah mulai mengakar. Tahap coba-coba sudah lama berlalu. Sudah profesional. Sudah tinggal menaikkan market share. Angka produksinya pun sudah 10 kendaraan per jam. Sudah pakai sistem produksi ban berjalan seperti di industri motor yang modern.

Saya lihat pekerjanya sangat muda-muda semua –campur laki-laki perempuan.

Desainnya juga sudah matang, termasuk bisa menggabungkan antara ''cantik'', kuat, aman, dan hemat energi.

Misalnya baterai: ditempatkan di bagian bawah sepeda motor agar bisa memanfaatkan udara dari depan saat motor melaju. Angin dari depan masuk deras ke lubang kotak baterai. Itu berfungsi sebagai pendingin baterai. Hasilnya: baterai lebih awet. Suhu udara di dalam baterai turun sampai 30 persen.

Polytron memang berkepentingan dengan keawetan baterai. Itu karena penjualan motor listrik Polytron pakai sistem sewa baterai. Harga motor menjadi lebih murah. Sudah bisa bersaing dengan sepeda motor bensin.

Memang pembeli masih harus bayar sewa baterai secara bulanan tapi nilai sewanya masih lebih murah dari biaya sebulan membeli bensin.

Polytron sudah menemukan model bisnis penjualan motor listrik di Indonesia. Tinggal satu lagi yang masih harus diperjuangkan: bagaimana bisa membangun sebanyak mungkin stasiun charging.

Kategori :