Astaga.
Naratama yang mengungkapkan kembali bagaimana James F. Sundah menciptakan lagu yang membuat penyanyi Ruth Sahanaya ngetop. Naratama memang terpilih di antara sahabat yang tepat menyampaikan eulogy di upacara pemakaman James di New York. Upacaranya kemarin, pemakamannya sendiri dilakukan hari ini.
Naratama kini tinggal ''sekampung'' dengan James di Queens, New York. Ia bekerja di Voice of America. Nara dan James memang satu sekolah –beda tahun: SMAN 3 Jakarta Pusat. Itulah SMA ''pabrik musisi'' di Jakarta.
Saya pun minta info ke Nara: siapa saja musisi alumnus SMAN 3 Jakarta itu. Jawabannya: Addie M.S., Fariz R.M., Andi Rianto, Krisdayanti, Sophia Latjuba, Ikang Fawzi, Deddy Dhukun, Memes, Raidy Noor, Adi Adrian (KLa Project), Sisca (KLa Project), Daniel Sigalarki (Modulus Band), Gustaf (Guest Band), Bemby Gusti, Ricky Poetiray, Adjie Soetama, Ade Andrini, Makki (Ungu), dan lain-lain. Kalau artis ada Baim Wong, Raffi Ahmad, Harry De Fretes, dan lain-lain.
Benar-benar pabrik artis.
"Meski beda tahun, sebagai sesama alumni yang bergerak di dunia musik kami sudah seperti keluarga," ujar Naratama.
Dari SMA itu Nara kuliah di Fisip Unas. Lalu ambil S-2 sosiologi di Valdosta State, Georgia, Amerika. Pulang ke Jakarta Nara bekerja di Indosiar dan ANTV. Nara-lah yang menjadi produser acara TV Famili 100. Juga Bursa Musik Indonesia (BMI). KLakustik. Akustik Plus. Dan banyak lagi. Ia juga pernah mengajar sampai menjadi kepala program studi TV di Institut Kesenian Jakarta. Nara juga yang menjadi sutradara video klip Tantowi Yahya, Harry Roesli, Katon, dan banyak lagi.
Baru ketika ''bertetangga'' di Amerika, Nara sempat bertanya pada James: bagaimana riwayat lahirnya lagu Astaga. Itu diceritakan Nara di eulogy-nya kemarin.
"Saat itu James naik bus kota di Jalarta. Penuh. Padat. Pengab. Sesampai di Mampang Prapatan ia melihat ada tabrakan mobil. Lalu ia lihat banyak anak muda yang menonton tanpa berbuat apa-apa. Astaga, kata James. Begitu tidak peduli anak-anak muda itu. Lalu jadilah lagu. Beberapa bulan kemudian seorang produser datang ke James: apakah punya lagu baru yang bisa dirilis. James menyodorkan Astaga. Lalu James bertanya siapa yang akan menyanyikannya. Terpilihlah Ruth Sahanaya".
Tepat sekali Nara yang dipilih menyampaikan eulogy. Istri Nara sendiri, Maya, lebih dulu diketahui terkena kanker. James sedih mendengar Maya harus menjalani kemoterapi. James-pun ingin masak soto untuk Maya: agar selera makan Maya bisa bangkit lagi.
Tak lama kemudian Nara mendengar James juga terkena kanker paru. Lebih fatal. Dokter mengatakan usia James tinggal tiga atau empat bulan. Awalnya James tidak mau menjalani kemo. Pasrah. Ia juga masih bisa tertawa. Tapi Nara dan Maya terus meyakinkan James agar bersedia menjalani kemo. Akhirnya James mau.
Saya mengikuti upacara pemakaman kemarin secara live streaming. Ada perubahan di acara pembacaan doa: yang mewakili sahabat Islam bukan Ustad Jaya, tapi Ustad Mohamad Thoha. Beberapa kali lagu Lilin Lilin Kecil ciptaan James dinyanyikan di acara itu.
Yang paling ditunggu adalah eulogy dari sang istri: Lia Sundah.
Saya putuskan untuk memuat lengkap eulogy itu. Lia membuatnya dalam bahasa Inggris. Saya pun minta tolong Google untuk menerjemahkannya. Inilah eulogy Lia selengkapnya:
***