Di ITS sendiri Prof Johan Silas dikenal sebagai salah satu pendiri jurusan arsitektur.
Menganggap Prof Johan sudah almarhum jelas itu bukan ''balas dendam'': sudah tiga kali saya dikabarkan meninggal. Dan saya tidak peduli.
Prof Johan Silas pun sama: masih segar bugar. Sejak dulu badannya langsing. Ceking. Tinggi. Berkaca mata. Dahinya lebar. Lima anaknya semua alumnus Eropa –empat di Prancis, satu alumnus Jerman. Kini dua anaknya tinggal di Prancis.
Ada saja jalan untuk kembali menjalin tali silaturahmi. Dalam hal saya dengan Prof Johan Silas jalannya lewat Islamabad. Lewat depan hotelnya Agha Khan.
Perundingan damai di hotel itu sendiri, menurut Wapres Amerika JD Vance tidak gagal total. Hanya gagal. Ada juga sisi berhasilnya. Keinginan Presiden Donald Trump, katanya, sudah tercapai: Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir lagi.
Keberhasilan versi Amerika itu sebaiknya kita akui: agar Trump senang. Lalu tidak main serang lagi.
Seharusnya Presiden Barack Obama yang mengalah: segera memuji Trump yang beranggapan sudah berhasil memenangkan perangnya dengan Iran. Agar Trump segera senang –dipuji oleh lawan utama politiknya.
Tentu kalau ukuran berhasil hanyalah "Iran sudah tidak akan mengembangkan senjata nuklir" itu sudah tercapai di zaman Presiden Obama. Iran sudah tanda tangan. Justru Trump yang membatalkan perjanjian itu.
Sayang Obama bukan orang Tionghoa yang punya prinsip ''berilah muka kepada orang yang senang cari muka''.(Dahlan Iskan)