Iri Masyaallah

Rabu 01 Apr 2026 - 09:43 WIB
Reporter : Yogi
Editor : Yogi

Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman.

Yang kawin adalah kurma.

Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba --hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya. 

Anda sudah tahu: nenek moyang Kholid adalah orang dari Wadi Doan. Ia sering ke sana. Pemilik pabrik sarung Cap Mangga dan berbagai pabrik Indomie di Timur Tengah itu tahu di mana mathba terenak.

Di sebelah saya tiga orang Yaman juga lagi makan mathba. Mereka membawa tas kresek plastik. Isinya seperti akar kering. Itu bukan akar. Itu bunga kurma yang sudah dikeringkan.

"Ini bunga jantan," katanya menjawab rasa penasaran saya. "Akan kami taburkan di atas kurma betina," ujarnya. "Mumpung masih Februari, puncak rasa kurma betina harus kawin," tambahnya.

Saya baru tahu: ada kurma jantan dan betina. Satu pohon kurma jantan mampu membuahi 50 pohon kurma betina. Maka petani kurma berusaha menanam satu kurma jantan di tengah 50 pohon kurma betina.

Itu belum cukup meyakinkan. Petani masih perlu mengumpulkan bunga kurma jantan untuk ditaburkan ke bunga betina. Agar buah kurmanya lebat.

Setelah kami lebih akrab saya diminta mengambil satu untai. Untuk apa? "Anda kunyah," katanya. 

Saya ragu. Ia tahu saya ragu. Ia pun  memberi contoh mengunyah satu tangkai. Saya ikuti caranya.

"Bagi orang Arab ini seperti viagra," katanya. Saya men-jondil. Telanjur saya telan. Bagaimana kalau viagranya manjur.

Letak kota Wadi Doan ini unik. Tidak terlihat dari jalan raya poros utama Tarim-Mukalla. Di sepanjang perjalanan saya seperti tidak pernah melihat kota. 

Ternyata kota-kotanya tersembunyi di bawah sana. Di dalam wadi. Wadinya sangat dalam. Jangankan rumah di situ, pepohonan di wadi pun tidak terlihat dari jalan raya.

Yang terlihat hanya permukaan pegunungan yang serba rata. Dari jalan raya itu ternyata banyak jalan kecil masuk ke wadi. Jalannya menurun. Berliku. Begitu sampai di kedalaman sekitar 100 meter baru terlihat banyak pohon. Banyak rumah. 

Wadi itu memanjang panjang. Ratusan kilometer. Berlekuk-lekuk --mengikuti liukan sungai kering. Sungai itu baru ada airnya kalau terjadi hujan lebat. Setahun tiga atau empat kali saja.

Kategori :

Terkait

Minggu 31 May 2026 - 06:30 WIB

Icip-Icip Galeri

Rabu 27 May 2026 - 06:45 WIB

Gubuk Dea

Selasa 12 May 2026 - 09:44 WIB

Eulogy Lia

Rabu 06 May 2026 - 09:51 WIB

Bandit Sosial