Yang jelas letak Tarim memang di lembah yang amat dalam di antara gunung-gunung tanah di sekitarnya.
Di saat hujan gunung tanah itu menyimpan air. Pelan-pelan meresap ke bawah. Ke lembah. Jadi cadangan air yang besar.Itu tidak hanya di Tarim. Pun sampai di Wadi Doan, yang posisinya juga di lembah yang sangat dalam. Air melimpah di mana-mana.
Lalu soal banyaknya habib. "Waktu pulang ke Indonesia saya bingung. Saya ditanya soal perhabiban di Tarim. Saya tidak bisa menjawab," ujar Syahrul Ramadhan, mahasiswa asal Indramayu.
"Saya jawab saja bahwa saya tidak tahu," kata Syahrul.
Kenapa tidak tahu? "Di Tarim tidak ada perdebatan soal apakah habib itu keturunan Nabi atau bukan," katanya.
Di Tarim memang banyak ulama dipanggil habib. Masyarakat percaya Habib itu keturunan Nabi. Tapi bahwa ulama itu dipanggil habib bukan hanya karena keturunan Nabi. Ia dipanggil habib karena keilmuan yang tinggi dan perannya yang besar di masyarakat sekitar.
Saya pun bertanya kepada sahabat Disway di Tarim, yang asli orang Tarim:
"Apakah di sini ada keturunan Nabi yang tidak dipanggil habib?"
"Banyak. Biar pun keturunan Nabi tapi kalau ilmunya tidak tinggi tidak akan dipanggil habib," jawab teman Tarim saya itu.
"Anda sendiri keturunan Nabi?" "Bukan. Saya keturunan sahabat Nabi," jawabnya.
"Dari mana seseorang tahu keturunan Nabi atau bukan?"
"Dari silsilah. Di masyarakat Arab ini silsilah itu diceritakan dari kakek ke ayah, ke anak, ke cucu. Ada catatannya. Ada disiplin ilmu nasab di sini," katanya.
Misalnya ada pedagang besar yang keturunan Nabi di Hadramaut. Namanya sangat terkenal. Tapi tidak dipanggil habib karena dianggap bukan ulama tinggi. Mereka dipanggil sayyid. Pokoknya yang tidak memenuhi tiga unsur tadi tidak dipanggil habib: ilmu yang tinggi, punya silsilah dan punya peran besar dalam membantu masyarakat sekitar.
"Di Tarim tidak ada orang yang minta dipanggil habib. Orang-lah yang memanggil beliau habib. Yakni setelah dilihat memiliki tiga syarat tadi", katanya.
Di Indonesia memang salah kaprah. Pokok wajahnya seperti Arab dipanggil habib. Bahkan saya sendiri memanggil mantan pemain sepak bola berdarah Arab dengan panggilan habib. Dan yang saya panggil habib juga menoleh.
Asal mula ada panggilan habib, katanya, justru dari peran sosial ulama itu sendiri yang sangat besar. Peran sosial itulah yang membuat ulama tersebut dicintai masyarakat. Lalu masyarakat memanggilnya habib --artinya: yang kami sayangi.